|
Oleh Drs Nelson Lumbantoruan MHum Sekilas Sejarah Sejarah mencatat, bahwa pada tahun 1947 telah ada kabupaten Humbang, ibukotanya di Dolok Sanggul. Lahirnya kabupaten Humbang ini, bersamaan dengan lahirnya tiga kabupaten lainnya yaitu Kabupaten Silindung, ibukotanya Tarutung, Kabupaten Toba Samosir, ibukotanya Balige dan Kabupaten Dairi, ibukotanya Sidikalang. Pada tahun 1950, keempat kabupaten ini digabung menjadi satu yaitu kabupaten Tapanuli Utara. Seiring dengan perkembangan zaman, pada tahun 1964, Kabupaten Tapanuli Utara dimekarkan melalui pembentukan kabupaten Dairi, kemudian pada tahun 1998, terjadi lagi pemekaran melalui terbentuknya kabupaten Toba Samosir. Selanjutnya pada tahun 2003, terjadi lagi pemekaran yaitu Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas). Kabupaten Humbang Hasundutan diresmikan pemerintah berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2003. Lahirnya kabupaten baru ini adalah sebagai wujud dari aspirasi masyarakat yang mendambakan percepatan pembangunan di kabupaten Humbang Hasundutan. Sejarah membuktikan bahwa daerah Humbang adalah penghasil kemenyan sejak berabad-abad lalu. Kemenyan adalah salah satu komoditas unggulan, memiliki areal tanaman seluas 5000 hektar lebih dengan produksi 1.278 ton per tahun. Selain itu, Humbang dikenal sebagai penghasil kopi dengan produksi 11.296 ton per tahun. Komoditas unggulan ini, selain dipasarkan di dalam negeri, juga dipasarkan ke luar negeri. Humbang Hasundutan juga memiliki berbagai warisan budaya yang sangat penting. Salah satunya ialah Dinasti Sisingamangaraja. Dinasti Sisingamangaraja berpusat di Bakara dan merupakan satu-satunya sistem kerajaan yang pernah ada di Tanah Batak. Dari Dinasti ini tampil seorang pahlawan nasional yaitu Raja Sisingamangaraja XII, Raja Sisingamangaraja XII menjadi primus interparis di Tanah Batak yang berjuang mengusir penjajah dari Tanah Batak. Dalam pertempuran melawan penjajah Belanda, Raja Sisingamangaraja XII tewas tertembak bersama putra-putrinya di desa Sionom Hudon, Kecamatan Parlilitan, Humbang Hasundutan. Penduduk Kabupaten Humbang Hasundutan sekarang ini sekitar 160.000 jiwa. Pada umumnya adalah etnik Batak Toba. Terdapat sejumlah kelompok marga yang mendiami wilayah Humbang Hasundutan yaitu : kelompok marga si Raja Oloan (Sihotang, Bakkara, Sinambela, Sihite, Simanullang), Toga Simamora (Purba, Manalu, Debata Raja), Toga Marbun (Lumbanbatu, Banjarnahor, Lumbangaol), Toga Sihombing (Silaban, Lumbantoruan, Nababan, Hutasoit), Toga Simatupang (Siburian, Togatorop, Sianturi), Hasugian, Tumanggor, dan lain-lain. Saatnya Rakyat Memilih Sejak diresmikannya kabupaten Humbang Hasundutan 2003, pemerintah telah menetapkan beberapa pejabat daerah yang memimpin kabupaten baru ini yaitu : Drs Manatap Simanungkalit MM (28 Juli 2003-9 Agustus 2004), Drs Binsar W Simamora, Ak (10 Agustus 2004-28 Oktober 2004), Sarlandy Hutabarat SH (29 Oktober 2004-26 Agustus 2005) dan Drs Maddin Sihombing MSi (27 Agustus 2005-sekarang). |